Low Information Diet: Solusi Agar Dapat Fokus Bekerja di Era Kekinian

Reading Time: 5 minutes
Foto oleh Matthew Guaydi Unsplash

Hari Rabu pukul 09.00. Waktu itu ialah puncak waktu sedang semangat-semangatnya bekerja. Berada di depan laptop mengerjakan website. Chrome menjadi browser andalan ketika mengerjakan website tersebut. Tidak lama kemudian tiba-tiba ada kendala saat men-develop. Meng-googlingdemi mencari solusi.

Scroll… scroll… next page…

Pikiran mulai tidak fokus. Solusi yang tepat belum ditemukan. Kemudian tiba-tiba ada bisikan-bisikan gaib mulai menggerayangi pikiran.

Kemarin malam kan kamu habis balas doi di Twitter. Coba buka. Siapa tau doi dah balas hehehe…

Karena disebabkan hormon bucin (budak cinta) yang melanda, akhirnya menuruti bisikan gaib tersebut. Kemudian membuka akun Twitter dan ternyata doi belum balas. Dengan pikiran posthink (positive thinking) sambil menunggu doi membalas, kemudian scrolltimeline.

Ada meme lucu, thread cerita horror, video kocheng oren…

Tiba-tiba teman kantor menghampiri dan mengajak makan siang. Cukup kaget karena setelah melihat jam, sudah hampir menunjukkan pukul 12.00. Jam produktif hangus sia-sia karena selama 3 jam tersebut, tidak ada kontribusi apa-apa ke pekerjaan.

Setelah makan siang, kemudian kembali bekerja. Pukul 13.00 tertera di layar laptop. Belum 30 menit, terngiang kembali pikiran-pikiran lain.

Doi udah balas belum ya? Apa kalimatku salah ya? Haruskah aku deletetwitnya daripada malu-maluin?

Belum selesai pikiran itu, muncul kembali pikiran lain.

Itu kok bisa ya hantunya cuman terlihat sama dia? kok aku gak lihat? Apa ini orang cuman rekayasa doang ya biar hits?

Terus ada lagi pikiran lain.

Emang semua kucing berwarna oranye, bisa konyol kayak gitu ya? Kok bisa gitu ya?

Dengan pikiran-pikiran yang menggerayangi tersebut, karena penasaran, maka pencarian macam detektif menjadi sarana utama untuk mengatasi rasa penasaran tersebut. Dari mencari fakta kenapa gebetan gak balas-balas dari kepoin isi sosmed-nya apa memang lupa balas atau memang sengaja diliat terakhir dia bikin twit kapan, meng-googling kenapa kucing berwarna oranye itu memang konyol atau tempat horornya memang memiliki legenda tersendiri atau tidak.

Ya tau-tau udah liat teman kantor bersiap-siap untuk pulang kantor. Sudah pukul 16.00. Sedangkan pekerjaan? masih belum nemu solusinya. Mau mengerjakan di rumah? Kepala sudah pusing karena terlalu banyak informasi yang telah diserap atau gejala ini disebut Too Much Information(TMI).


Era kini, memang susah sekali ketika kita sedang bekerja atau belajar, mencoba menjauhkan diri dari godaan membuka sosmed (sosial media). Terutama kalau kerjaannya itu memang harus terhubung dengan sosmed seperti admin sosmed, sosmed marketing, sosmed analisis dan banyak lagi.

Nah masalahnya, era kini, bejibun informasi telah ada di mana-mana terutama internet. Kita sejatinya manusia punya keterbatasan dalam mencerna informasi tersebut. Waktu kita hanya 24 jam sehari. Otak kita gak mungkin dong bisa menyerap segala informasi dalam kurun waktu segitu. Kita sejatinya memiliki pilihan yang disukai maupun tidak disukai yang berbeda-beda.

Wooley, seorang profesor rekanan teori dan perilaku organisasi dari universitas Carnegie Mellon mengatakan bahwa masalah terbesar yang akan dihadapi dengan informasi yang berlebihan ialah distraksi yang konstan [1].

Ketika kita sedang menulis sebuah emailnamun kita terus-terusan mendapatkan distraksi, dapat membuat Anda melakukan pekerjaan tersebut dua kali lebih lama dari seharusnya dan kualitas hasil akhir secara signifikan akan lebih rendah dibandingkan ditulis tanpa distraksi.

Kemarin saya sudah membahas bahwa multi-taskingitu buruk untuk produktivitas pekerjaan. Namun hal tersebut jelas sulit dilakukan di era kekinian karena kita semua telah terhubung dengan smartphoneyang terisi oleh berbagai aplikasi dari kategori social messaging (Whatsapp, LINE, Telegram), social media (Instagram, Twitter, Facebook), onlinepublishing platform(Medium) dan banyak lagi. Berbagai distraksi akan menerpa dalam kehidupan kita oleh hal-hal tersebut.

Hal tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan cara melakukan detoks yang bernama digital detoxyaitu tidak menggunakan segala peralatan digital seperti laptop dan smartphone selama satu hari atau lebih. Tapi tidak semua bisa melakukan hal itu, terutama pekerjaannya yang memang mengharuskan tetap terhubung dengan peralatan digital.

Oleh karena itu, kita bisa mengatasinya dengan melakukan diet yang bernama diet low information. Sama seperti diet pada umumnya, katakan diet untuk melangsingkan tubuh. Makanan itu aslinya tidak jahat, namun kebanyakan makanan jadinya jahat. Jahat yang membuat tubuh kita menjadi ginuk-ginuk.

Diet low informationini tujuannya mengurangi informasi yang tidak penting dengan cara memprioritaskan informasi mana yang bermanfaat untuk kita serap demi produktivitas kita sehari-hari. Seperti diet pada umumnya, bahwa tidak berlebihan ketika mengkonsumsi makanan ialah kunci kesuksesan diet.

Tips yang akan saya ambil ialah tips yang saya modifikasi untuk kebutuhan sendiri dan berhasil dari situs ini.

Pengurutan Prioritas

Kalau Anda sedang mengerjakan sesuatu yang menuntut Anda harus membuka Whatsapp, Slack atau platformlainnya dalam berkomunikasi entah dengan rekan kerja ataupun klien, Anda harus mengurutkan prioritas dalam merespon berdasarkan tingkat kepentingan.

Jangan membuka platform lain di luar sangkut paut dengan pekerjaan. Jika Anda menggunakan Whatsapp, Anda bisa mengubah Whatsapp Anda menjadi Whatsapp for Business agar dapat memisahkan antara kepentingan pekerjaan dan pribadi. Kalaupun memang belum diubah, Anda bisa juga memprioritaskan dengan cara hanya melakukan kontak saat jam kerja dengan orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan saja.

Kalau Anda memiliki gebetan, pacar atau istri/suami, Anda bisa memberitahu mereka kalau Anda mungkin terlihat onlinesetiap saat tetapi onlinetersebut hanya khusus untuk berhubungan dengan orang lain seputar pekerjaan. Anda akan berjanji memberikan kabar paling tidak sehari dua kali namun di luar jam kerja Anda. Hal ini dilakukan untuk menghindari drama yang tidak penting seperti…

Kamu itu online terus tapi kok gak balas-balas chat aku sih???!!! Kamu udah bosan sama aku ya???!!!

Pengurutan prioritas ini bisa juga diterapkan untuk kotak masuk email Anda. Dapat diurutkan menjadi empat kategori berbeda antara lain:

  1. Penting dan mendesak
  2. Penting tapi tidak mendesak
  3. Mendesak tapi tidak penting
  4. Tidak mendesak dan tidak penting

Hal ini dilakukan untuk menghindari informasi-informasi yang tidak penting dan relevan meresap ke otak Anda.

Pastikan Feed Sosial Media Anda Bersih dan Rapi

Feedsosial media Anda itu ibarat pisau bermata dua. Jika relevan dengan produktivitas Anda, dapat menjadi sumber informasi yang bagus. Jika tidak relevan, hanya menjadi sampah informasi yang menumpuk di otak Anda.

Misal Anda follow akun isinya kucing. Kalau satu hingga dua akun kucing sih tidak apa karena Anda butuh hiburan yang lucu-lucu dan menurut Anda kucing itu lucu. Namun jika Anda followsepuluh akun kucing, dari video lucu, pengenalan variasi kucing hingga akun sejarah kucing, Anda akan menerima banyak informasi yang tidak relevan dengan produktivitas Anda. Kecuali memang Anda terhubung dengan komunitas penyuka kucing atau memang profesi Anda sebagai dokter hewan.

Jangan karena Anda ingin terkenal di Twitter, Anda menggunakan jurus “folbek” agar followerAnda kian meningkat. Followakun yang memang relevan dengan produktivitas Anda. Semakin sering Anda melihat konten yang tidak relevan dengan produktivitas Anda, maka semakin sedikit informasi yang harusnya kita butuhkan.

Oh iya. Untuk menghindari drama tidak penting, mungkin Anda memang harus “folbek” akun yang memang teman Anda sendiri di dunia nyata. Kalau memang tidak relevan dengan produktivitas Anda, Anda bisa tinggal menggunakan fitur “mute” agar kontennya tidak bersliweran di feedAnda. Ya sebulan sekali intip isi akunnya dan berinteraksi agar tidak dicurigai jika Anda telah me-mutemereka. Ini demi hubungan yang lebih baik hehehe…

Jadwalkan Penggunaan Email maupun Sosial Media Anda

Hal terpenting yang harus Anda lakukan agar tidak menyerap informasi yang tidak relevan dan penting untuk hidup Anda ialah penggunaan email dan sosmed yang terjadwalkan.

Ada beberapa orang yang hanya membalas chat maupun emailsebelum dan sesudah jam kerja atau waktu istirahat saat jam kerja. Ada juga yang membalas setelah 2 jam fokus kerja kemudian beristirahat sambil membalas chat. Ya ada juga seperti saya yang menggunakan teknik Pomodoromisal 25 menit fokus kerja, kemudian 5 menit istirahat yang kemudian saya alokasikan untuk melakukan hal di luar pekerjaan. Namun setelah itu saya balik melakukan Pomodoro kembali.

Jika Anda kebanyakan menghabiskan waktu kerja di depan laptop dan membuka browser, Anda bisa menggunakan aplikasi Freedomuntuk memblokir situs-situs yang membuat Anda terdistraksi sehingga Anda dapat berfokus ke situs yang berhubungan dengan pekerjaan Anda.

Jangan Bermain Smartphone Sebelum Tidur

Memang jelas sangat menggoda sekali untuk bermain smartphone sebelum tidur. Terutama membuka sosmed atau browsingsesuatu di web dapat memberikan Anda informasi-informasi yang mungkin terkadang bahkan seringkali tidak relevan demi persiapan aktivitas kerja esok harinya. Biasanya saya menggantinya dengan membaca buku sejam sebelum tidur.


Kesimpulan

  1. Banyak informasi yang tersebar di mana-mana di internet. Membuat informasi terkadang menjadi tidak relevan dan penting untuk kita konsumsi. Oleh karena itu kita dapat menggunakan diet low information.
  2. Urutkan berdasarkan prioritas kepentingan dalam merespon atau membalas chatketika bekerja.
  3. Dapat diperhatikan following Anda apakah relevan dengan kehidupan atau produktivitas ketika Anda bekerja.
  4. Penggunaan emailatau sosmed disarankan untuk dilakukan penjadwalan agar terhindar dari informasi yang tidak terkait dengan produktivitas pekerjaan Anda.
  5. Penggunaan smartphone sebelum tidur harus diminimalisirkan untuk menghindari informasi yang tidak penting yang dapat menganggu kualitas produktivitas Anda keesokan harinya.

PRANALA

[1] https://www.fastcompany.com/90283810/how-to-go-on-a-low-information-diet