Meraih Badan Proporsional itu Gampang. Menjaganya? Lain Cerita…

Reading Time: 5 minutes
Transformasi kedua di tahun 2015–2016

Dulu berat badan saya sebesar 108 kg yang pernah turun ke 78 kg. Berat badan maksimal yang telah saya raih dari umur 5 tahun hingga 18 tahun. Kemudian lambat laun sekitar 2 tahunan, saya naik kembali hingga mencapai 109 kg. Setelah itu saya turunkan selama 1 tahun dan mencapai 74 kg. Lalu saya mulai sesat selama 2 tahun dan kembali ke 95 kg. Hingga saat ini berat saya turun kembali ke 85 kg dan berencana akan menurunkannya kembali.

Di sini tidak akan saya bahas cara menurunkan berat badan karena saya punya blog sendiri untuk itu. Saya di sini akan membahas mengapa menjaga badan proporsional itu susah sekali dibanding sekedar meraihnya.

Diet saya itu bukan termasuk yo-yo effect(mudah turun tapi juga mudah naik berat badannya) karena butuh waktu tahunan untuk balik kembali menjadi gemuk. Padahal olahraganya rutin banget sekitar 4–6x seminggu tapi ternyata tidak mencegah saya kembali menuju obesitas.

Apakah yang salah dengan gaya hidup saya ini? Apa karena 2019 saya akan mencoblos Jokowi? hiyahiyahiya.

Setelah beberapa lama saya mengumpulkan banyak alasan mengapa saya kembali menuju obesitas, ada beberapa poin masalah utama yang ingin saya jabarkan sepengalaman saya.


Masalah Finansial

“person holding coins” by rawpixelon Unsplash

Saya akui makanan sehat memang mahal. Makanan yang murah kebanyakan cenderung tidak sehat. Membeli gorengan lebih murah ketimbang membeli buah. Membeli sayuran brokoli lebih mahal dibanding membeli sayur santan yang telah tersedia di warung-warung terdekat. Faktor ini terkadang cukup membuat kita dilema. Gimana gak dilema? Kalau pilih murah, perut makin maju. Kalau pilih mahal, dompet makin tipis.

Selain murah, coba apalagi yang lebih menggiurkan?

Iyup…makanan gratis. Kalau kamu pekerja kantoran entah itu PNS maupun swasta, terkadang pukul 10 pagi sudah disuguhi kudapan makanan yang cukup menggiurkan. Lemper, kue bolu dan makanan sejenisnya. Tidak hanya pukul 10, terkadang juga saat lembur, kita ditawari bos untuk makanan penyokong tenaga tambahan kita (selain uang lembur) yang biasanya dipesankan seperti martabak, pizza dkk. Mana ada bos mau traktir karyawannya tapi dibeliin nasi merah dan sayuran kan?

Kamu ingin menolak tapi tidak enak. Bos sudah membeli. Kamu akhirnya memilih untuk memakannya…dan ternyata masih enak. Perhelatan batin untuk menolak memasukkan kalori makanan tersebut ke tubuhmu pun terjadi. Tapi biasanya, ending-nya kamu pun memilih pasrah dan menghabiskan sajian yang disediakan oleh bosmu.

Tau-tau, tanpa terasa waktu berlalu (padahal sudah berbulan-bulan), pipimu makin menggembul. Perut makin maju. Pinggang makin kencang menyamping. Pokoknya kamu mulai menyerukan untuk “kayaknya aku harus diet deh” setelah bercermin ataupun melihat fotomu sendiri pas wefie bareng teman di IG story-mu.

Nah yang begituan itu salah satu sumber kenapa badanmu kembali melar.

Susah sekali untuk menolaknya. Selain karena kamu tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk menikmati makanan tersebut, makanan itu pula enak banget untuk dilahap.

Ya selama kamu masih tidak tegas untuk menolak makanan yang dibeliin bos kamu ataupun makanan murah sekitar kamu yang cenderung tidak sehat, ya jaminan untuk diet pun dipastikan gagal.

Solusinya? ya carilah duit secukupnya. Jangan sampai tergiur karena mental gratisanmu. Mau murah dan sehat? masak sendiri dengan menu-menu simpel namun nikmat yang tersedia seperti di aplikasi Cookpad.


Manajemen Waktu

“man holding pen pointing on calendar” by rawpixelon Unsplash

Dulu kamu bisa meraih dan menjaga berat badan ideal karena kamu masih kuliah. Jadwalmu tidak banyak kesibukan kecuali kuliah dan nongkrong. Kamu bisa ke gym kapan aja kamu mau. Bahkan saat siang hari yang mana pengunjung gym tersebut paling sedikit dibandingkan sore ataupun malam hari.

Kamu makan pun masih bisa memilah karena kamu bisa ke tempat warung makanan langgananmu yang sedikit jauh dari kampusmu.

Waktu istirahat pun bisa kamu atur. Kamu tidur bisa 6–8 jam sehari. Belum lagi kamu bisa tidur siang di sela-sela aktivitasmu yang tidak terlalu banyak itu.

Namun kini sudah banyak berubah.

Semenjak kamu lulus dari kuliah, kamu pun mulai bekerja. Hidup tidak lah sebebas ketika kamu kuliah. Kamu kaget dengan waktumu yang diisi dengan seharian untuk bekerja. Ketika kamu ingin berolahraga seusai bekerja, kamu sudah terlalu kecapaian untuk melakukannya.

Makan pun sekarang hanya ada di kantin kerja. Waktu istirahat kerja yang hanya satu jam itu tidak dapat membuatmu cukup waktu untuk berkeliling mencari tempat makan yang lebih sehat untuk menu-menunya. Yang akhirnya kamu lebih memilih kantin yang menunya nikmat namun membuatmu “berdosa”.

Waktu tidur menjadi harta karun sekali untukmu. Macetnya ibukota membuatmu harus menghabiskan waktu di jalan selama berjam-jam. Jangan kan olahraga, mandi pun setelah pulang bekerja itu menjadi hal yang sudah dapat membuatmu capek sekali. Kamu harus bangun pagi sekali untuk menghindari macetnya ibukota. Jam 4 subuh itu menjadi hal lumrah. Siapa coba yang mau olahraga pagi-pagi jam segitu? Ya cuman orang yang niat aja.

Sebenarnya mau saya bahas lagi. Terutama yang manajemen waktunya berubah setelah menikah dan apalagi punya anak. Namun saya berikan contoh itu saja biar gak lebih kaget ketika membandingkan manajemen waktu yang telah menikah dan paling terutama sudah punya anak.

Solusinya? Mengorbankan 30–45 menit untuk berolahraga dalam sehari.

The Rock atau Dwayne Johnson itu ialah salah satu role model saya kalau urusan disiplin. Beliau rela untuk bangun jam 3 atau 4 pagi hanya untuk berolahraga. Beliau mempunyai waktu yang sangat padat sekali lewat dari jam 5 pagi hingga jam 10 malam.

Untuk urusan istirahat, tegaslah dengan dirimu sendiri. Jangan mengecek sosial media sebelum tidur. Taruh mode airplane atau hanya panggilan tertentu saja yang bisa menghubungi kamu. Karena selalu kesalahan kita ialah mengecek sosial media sebelum tidur. Tau-tau udah jam 2 pagi aja. Padahal udah siap tidur mulai dari jam 10 malam.


Niat Salah

“man standing while raising his hands at seashore” by Marion Micheleon Unsplash

Niat yang salah bisa menjadi salah satu faktor kegagalan mengapa kamu bisa gagal menjaga berat badan. Banyak banget niat yang salah. Paling dekat ialah dari awal niatnya agar tidak jomblo lagi.

Pas sudah gak jomblo lagi karena badan proporsional, ya udah kelar deh tujuannya. Terus buat apalagi nih jaga berat badan? yaudah gak ada. Pelan-pelan balik menggemuk kembali, eh taunya diputusin. hiyahiyahiya.

Terus niat lain yang salah seperti apa? agar keterima saat tes fisik di suatu instansi perusahaan yang memerlukan berat badan ideal sebagai salah satu syarat kelulusan seleksi calon karyawan. Banyak teman saya seperti ini dan pattern-nya kebanyakan sama. Sama-sama menggemuk kembali bahkan lebih gemuk dari sebelumnya.

Solusinya ialah cari niatan yang memang punya endless goal. Contohnya ialah terus hidup sehat. Terus beberapa motivasi agar tujuannya terus tercapai semisal dapat menghemat pengeluaran biaya berobat atau tidak membuat keluarga khawatir. Kamu sakit ya keluarga juga yang prihatin. Kecuali emang dasar kamunya punya kebiasaan caper. Kalau itu lain cerita.

Motivasi harus terjaga. Kesalahan saya paling besar ialah memang benar, tidak cukup hanya niat hidup sehat saja. Tapi harus mencari alasan terkuat kenapa saya harus terus hidup sehat. Yang saya sebutkan sebelumnya itu menjadi salah satu alasan terkuat saya hingga kini.


Ya itu 3 poin yang menjadi masalah terutama saya ketika harus tetap menjaga badan agar tetap fit dan proporsional. Kalau ada tambahan atau masukan lain, silahkan komen di bawah. Nanti kita diskusikan rame-rame.